silencieux

Saturday, December 23, 2006

Notre Histoire

Ingatkah dirimu, ku pernah ungkapkan sesuatu padamu pada pertemuan kita yang kedua itu? Ku bilang;
"Hanya ada satu gadis yang ku rasa sangat ku sayangi," dan kau tersenyum ketika itu--senyum bahagia; sampai akhirnya kau menciumku.
Akhirnya ku memberanikan diri mengucapkan sesuatu yang ku tahu sangat melukaimu; ku bilang;
"Itu bukan dirimu--gadis itu bukan dirimu; gadis itu ku temui tiga tahun yang lalu dan kini dia telah pergi tanpa pernah mengetahui yang sesungguhnya," dan saat itu kau langsung terdiam, bahkan memalingkan wajah cantikmu itu dariku.
Kau menundukan wajahmu dan pada saat itu tampak sangat jelas tetes-tetes air mata jatuh dari mata indahmu itu.
Akhirnya ku lanjutkan;
"Tapi ntah kenapa, hanya dirimu yang ku rasakan selama ini--bahkan ketika aku bersamanya--bersama gadis itu; aku merasakanmu. Sudah delapan tahun dari pertemuan kita itu, dari seminggu terindah yang ku rasakan bersamamu, seminggu terindah di Bali bersamamu--pertemuan pertama kita, perkenalan kita; aku tetap merasakanmu, walaupun kita terpisah selama delapan tahun ini," akhirnya ku benar-benar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya sangat ku hindari. Sebenarnya aku sangat takut mengungkapkan semua itu padamu--tapi aku tak tahan (seseorang harus mengakuinya dan orang itu adalah diriku).
Namun betapa terkejutnya diriku ketika ku dengar kau berkata;
"Apakah yang kau maksud adalah bahwa kau selalu mengenangku dan bayangan dari kenangan itu selalu bersamamu tanpa bisa kau hentikan?"
"Ya, bahkan aku merasa; kenangan itu selalu memelukku--aku sendiri selalu merasa, kenangan kita itu seolah-olah tak dapat merelakan diriku menyayangi gadis lain--karena mungkin tanpa ku sadari aku telah menyayangimu dari pertemuan pertama kita itu--justru mungkin rasa ini terlalu besar bagi seseorang seperti diriku, hingga ku tak pernah mengerti apa yang ku rasakan padamu," ku jawab.
Tanpa ada sepatah kata pun dari bibirmu--kau memelukku, menciumku dengan lembutnya. Dan dalam sorot sendumu itu ku lihat seberkas kebahagiaan yang ku tahu tengah menyelimutimu ketika itu.
"Aku menyayangimu dan aku rela hubungan kita hanya sebatas teman dekat hingga kau sendiri sadar bahwa kau menyayangiku--setelah itu aku yakin aku akan bersamamu," katanya. Dan kau pun menciumku kembali.

Kini berbulan-bulan setelah itu, aku terkadang merasa harus pergi saja walaupun ku tak mau. Lihatlah dirimu sekarang; mungkin se-Indonesia ini mengenalmu atau mungkin hanya pernah melihatmu--tapi yang jelas mereka mengetahui siapa dirimu. Apa jadinya jika seseorang sepertimu menangis hanya karena seseorang sepertiku.... Aku tak ingin melukaimu tapi jika kau menginginkan diriku ini untuk pergi dari hidupmu, maka akan ku lakukan--asal kau memintanya. Meminta ku menjauh dari kenangan yang mungkin timbulkan lara demi kebahagiaanmu.

Wednesday, December 20, 2006

Bandung, akhir 2005 - 2006

Isaac memperhatikan peragawati itu melenggak-lenggok di catwalk; ia pun membelalak tak percaya dan langsung mematikan televisi bututnya. Isaac hanya terdiam meratapi apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Tak kuasa ia menahannya; Isaac kembali teringat akan kejadian 7 tahun lalu--usianya baru 16 tahun ketika itu. Otaknya kembali memutar kejadian itu dari awal hingga akhir. Kenangan seminggu terindah dalam hidupnya benar-benar tergambar jelas dalam benaknya; Lima hari bersama seorang gadis cantik bermata sendu.
Bali adalah adalah tempat penuh kenangan itu; tempat mereka bertemu. Ketika itu Isaac yang masih berusia 16 tahun nekat seorang diri pergi ke Bali dari kota asalnya Cirebon menggunakan perahu layarnya. Walaupun ketika itu usianya masih benar-benar muda, namun ia benar-benar handal mengendalikan perahu layarnya yang lumayan besar itu seorang diri.
Isaac benar-benar terperanjat ketika seorang gadis cantik bermata sendu memperhatikannya merapatkan perahu layarnya di dermaga. Ia bingung, kenapa gadis itu memperhatikan wajahnya bukannya perahu layarnya yang cantik. Setelah perahu layarnya itu merapat; ia pun melompat ke dermaga dan langsung menghampiri gadis itu yang usianya ternyata lebih tua dua sampai tiga tahun darinya.
"Apa khabar?" Isaac memulai pembicaraan.
Bukannya menjawab; gadis itu malah terlihat kikuk dan memerahlah pipinya.
"Aku Isaac."
"...(aku tdk akan menyebutkan nama gadis ini)..."
"Oh, kau tahu apa yang kebetulan?" sambil menunjuk ke arah tubuh perahu layarnya; Isaac pun kembali berkata: "Namamu sama dengan nama perahuku."
Pipi gadis itu benar-benar merona dan benar-benar memerah dan akhirnya gadis cantik itu pun tersenyum.
Selama seminggu setelah perkenalan itu; mereka selalu menghabiskan hari demi hari bersama. Mereka selalu berlayar bersama menggunakan perahu layar Isaac yang secara kebetulan bernama sama dengan gadis itu. Hari demi hari gadis itu semakin lincah ketika berlayar bersama Isaac. Selama berlayar; Gadis itu langsung mengerti kapan harus bergerak ke arah kiri atau kanan perahu dan kapan harus meunduk menghindari kibasan tiang layar perahu. Karena memang begitulah caranya ketika kau berlayar menggunakan perahu layar; kau harus berada di sebelah kanan ketika perahu berbelok ke arah kiri, karena badan kiri perahu akan berada sejajar dengan permukaan laut dan sebelah kanannya akan berada di atas--kapal itu akan miring.
Sebelum berlayar kembali ke Cirebon. Pada hari ketujuh di dermaga yang sama; Isaac mencium bibir gadis itu. Bukannya mendapat tamparan sebagai balasan, Isaac malah mendapat ciuman sebagai balasannya dan akhirnya mereka pun berciuman selama beberapa menit.
"Ini nomor teleponku di Jakarta," kata gadis itu.
"Jangan, tak perlu dipaksakan... Biarkan saja semuanya kembali seperti semula. Kita pulang ke kota kita masing-masing dan mengerjakan apa yang biasa kita kerjakan. Lagipula, bukankah kau akan tinggal di luar--bukankah kau sekolah di Belanda?! Jika memang kita harus kembali bertemu, maka kita pasti bertemu bagaimana pun keadaannya kelak."
"Datanglah! Jika suatu saat kau lihat atau kau tahu aku berada di mana."
Kesenduan memang menjadi milik pancaran mata gadis itu, tapi dengan perpisahan ini sorot kesenduan itu semakin menjadi. Sorot kesenduan dari seorang gadis-cantik-bermata-sendu.
Mereka pun berpisah.

Isaac kembali tersadar dari kenangannya. Kejadian-kejadian antara dirinya dan gadis itu pun sementara ini lenyap. Perih terasa kenangan indah itu ketika Isaac tersadar bahwa dirinya belum menjadi apa-apa (lulus aja blom alias dedengkot manajemen UNPAD), sedangkan gadis itu kini telah menjadi seseorang.

BANDUNG, 2006

Pemuda kurus itu berlari ke dalam lobby hotel itu. Ia yakin telah melihatnya; Ia yakin telah melihat gadis itu... gadis-cantik-bermata-sendu-itu. Ia tak salah--gadis itu tengah melangkah memasuki lift.
".................," Pemuda kurus itu menyapa, atau lebih tepatnya berteriak.
sembari menatapnya, gadis itu pun melangkah keluar dari lift dan menghampiri pemuda kurus itu. Tatapan gadis itu benar-benar syahdu, pipinya kembali memerah. Ia pun berkata:
"Isaac."

Wednesday, December 13, 2006

Pourquoi Pas Moi?

Ga tau pengen ngomong apaan...Ga kepikiran buat ngomong ke seseorang (entah siapa) tentang apa yang gw rasain ini; mungkin karena gw ngerasa ga ada yang bisa ngertiin gw tentang ini. Sekarang ini, gw hanya ngerasa jemari gw-lah yang paling mengerti gw.

Mengawali hari ini dengan kebahagiaan yang sangat luar biasa.
Langkah pertamaku hari ini diliputi kebahagiaan yang teramat-sangat; ku tak ingin berhenti karena terlalu bahagia.
Tapi, kenapa kebahagiaan ini harus sedemikian cepat menghilang (bukan diriku yang menghilangkannya); melayang meninggalkan diriku; membuatku ingin segera berhenti dan tidak melangkah lagi.

Sebenarnya; Tiga tahun lebih awal adalah jarak yang harus ku terima, walaupun ku tahu alangkah lebih baiknya jika lima tahun lebih lambat dariku. Dan keputusan pun telah terpatri di hatiku; bahwa telah ku terima dengan sangat sangat ikhlas yang tiga tahun itu.
Tanpa ada setitik pun keraguan, ketika itu hatiku menjawab: "YA, UNTUK INI AKU MAU."
Walaupun ku tahu aku harus berkorban demi semua ini; dan aku bisa melakukannya.
"Kenapa ku seolah bisa benar2 yakin bisa melakukannya?"
"Karena ku sedang melakukannya & ternyata aku memang bisa melakukannya; jangan pernah meragukanku ketika ku TELAH MEMUTUSKAN TENTANG SESUATU."

Mungkin ku berdosa jika bertanya: "Pourquoi pas moi?"

"Untukmu Desember 1979; tak bisakah terus melangkah dan baru menghadirkannya antara 1982 - 1987; maafkan aku telah meracau seperti ini."

Saturday, December 02, 2006

Whispering Silence Lunacy

Semilir damai senyuman
Terlena buai harapan
Terbuai peluk teratai
Ternyata busuk--bau bangkai


"Ternyata semua palsu...Telah ku terima durimu...Aku telah memaafkanmu, sangat sangat memaafkanmu; denganmu, akhirnya ku tahu bagaimana rasanya disakiti...Thanks a lot."