silencieux

Monday, February 26, 2007

Je m'en fous? Je me fous?

Je m'en fous de dormir, de penser, de l'image, de l'amour. Maintenant, je ne pleurais jamais comme si jamais ne me touchait; "Je m’en fous de tout ça? même si je sais que je me fous de tout ça. L'hipocrite huh?"

mais rien n'est important, huh?

Sunday, February 18, 2007

Question Mark

Mungkinkah semuanya sia-sia?
Aku hanya berharap; semuanya tak sirna
Tapi, mungkinkah ini semua tetap ada?
Jauh sudah langkah ini meraba

Ragu, mungkin itu semua adanya
Perih, mungkin itu semua yang ku rasa

Ku tertawa benamkan asa
Walau ku tersedak hancurkan rasa
Lirih ku memanggil
Tak pernah sadari tubuh ini menggigil

"Jujur," hanya asap ini yang temani
Bodoh jika tak akui; "ia juga yang sakiti"
"Kumal," hanya ia yang selimuti
Bodoh jika tak akui; "inginkan rapi selimut diri"



* It's just me and my ratty old jeans behind that painful smokes.
* Haruskah tetap begitu? ku harap tidak.

Friday, February 16, 2007

Semoga Kau Membaca Ini Semua (untukmu)

"Aneh," kau berkata.
"Ga akan pernah bisa dimengerti," kau berkata.
"...strange man who i could never understand!" itu juga kau yang berkata.
Biarlah tetap begitu; dengan begitu hanya akulah temanmu yang aneh dan ga-akan-pernah-bisa-dimengerti, agar suatu saat kelak ketika pikiranmu kembali ke masa lalu kau akan mendapatkan bayangku di sana dengan kelakuan anehku--dan semoga kau tersenyum saat itu--tertawa kalau perlu; aku tak keberatan.

Terkadang aku muak dengan semuanya. Muak ketika orang-orang yang mengaku mengenal diriku mengucapkan kata-kata itu. Kadang aku ingin marah tapi apa gunanya? toh kelakuanku memang aneh. Sampai akhirnya aku tiba pada bagian yang paling menyakitkan; kau juga mengucapkannya.
Sempat terpikir olehku tuk pergi saja--jauh, sejauh-jauhnya darimu dan jujur saja, itu kulakukan. Tak pernah ada lagi 'message2' aneh tengah malam (dini hari tepatnya) dariku untukmu ketika itu; karena apa? karena aku ingin menjauh saja, sejauh-jauhnya darimu kalau perlu dan tentu saja aku tak mau mendengar apapun tentangmu lagi. Mungkin semuanya karena aku menaruh harapan yang terlalu tinggi, bahwa kau akan mengerti kenapa-aku-begini-kenapa-aku-begitu--semuanya.
Dan juga sempat aku berpikir tentang benar tidaknya aku melakukan semua hal yang kulakukan untukmu agar kau mengerti diriku; mulai dari 'message2' itu sampai e-mail2 panjang nan membosankan itu.

Suatu hari kau mendengar kalau aku tak bisa lagi mendengar musik karena semuanya rusak, padahal hari itu aku benar-benar ingin mendengar musik karena buruknya hari yang kulalui (kau tahu karena apa). Tiba-tiba datang pesanmu yang akan ku syukuri selamanya; kau tahu 'message' yang mana yang membuatku kembali padamu? 'message' itu singkat saja tapi aku tahu jauh di dalam dirimu kau mengerti diriku.
Kau bilang: "Let your mind play the music for you!"
Kau mungkin tak tahu betapa bersyukurnya diriku karena kalimat itu. Seseorang dengan pikiran & hati yang hanya berada pada level biasa tidak akan pernah membuat kalimat seperti itu apalagi memberikannya pada seseorang--kau tidak seperti orang lain (kau tinggi).

Kini aku tak mau lagi jauh darimu. Aku bahkan tidak perduli lagi, walaupun mungkin kau akan kembali berkata "Aku tak pernah bisa mengerti dirimu," atau bahkan kembali menyebutku aneh atau bahkan gila sekalipun, karena jauh di dalam dirimu, tanpa kau sadari, kau mengerti aku. Hanya bibirmu yang menyebutku aneh, dan hanya pikiranmu saja yang berkata "tak mengerti diriku," jauh di dalam sana kau mengerti aku.

Kini aku yakin bahwa aku tidak menaruh harapan yang terlalu tinggi pada dirimu, karena tanpa sadar kau mengerti diriku--hanya pikiranmu saja yang merasa tidak mengerti diriku.

Betapa bodohnya aku tersinggung pada ucapanmu saat itu. Betapa tololnya diri ini karena percaya kau menyakitiku.
Kini hanya dirimu yang kuizinkan menyebutku ORANG ANEH--aku tak akan tersinggung.

Maafkan aku karena sempat tak mempercayaimu. Maafkan aku karena sempat menjauh. Maafkan aku untuk semuanya.


PS: Semoga kau membaca semuanya & mengerti kalau diri ini tak ingin menjauh lagi.

Thursday, February 08, 2007

Une Lettre Pour L'amour

Mereka pergi
Selalu ku sendiri
Tiada lagi pagi
Tak ku lihat matahari

Sunyi, senyap
Redupku pun meratap
Tak berharap 'tuk megucap
Hanya menatap

Sendiri; hadirkan bayang kelabu
Sendiri; harap itu seakan palsu
Kupilih langkah baru nan biru
Mantapkan hati 'tuk membisu

Sunyi mengalun, bisik merintih
Harapan kubangun, hati memilih
Ku tahu semua putih berawal jernih
Maafkan diri ini; kau terpilih


PS: Thx 4 the blog (Sunday, Dec 24th 2006)--I'd remember that evening brightly. Thank God i was there eventhough maybe that 'line' wasn't meant 4 me. I guess i had to apologize to you for it (4 been there) & 4 the 'truly hope' that someday, even just 4 one day you'll be able to see me with your heart--just 4 one day (i couldn't asked 4 more).
I could only hope that others who luv u could see it right from the start with their hearts; before the romance even begin.