Wednesday, December 20, 2006

Bandung, akhir 2005 - 2006

Isaac memperhatikan peragawati itu melenggak-lenggok di catwalk; ia pun membelalak tak percaya dan langsung mematikan televisi bututnya. Isaac hanya terdiam meratapi apa yang sedang bergejolak di dalam hatinya. Tak kuasa ia menahannya; Isaac kembali teringat akan kejadian 7 tahun lalu--usianya baru 16 tahun ketika itu. Otaknya kembali memutar kejadian itu dari awal hingga akhir. Kenangan seminggu terindah dalam hidupnya benar-benar tergambar jelas dalam benaknya; Lima hari bersama seorang gadis cantik bermata sendu.
Bali adalah adalah tempat penuh kenangan itu; tempat mereka bertemu. Ketika itu Isaac yang masih berusia 16 tahun nekat seorang diri pergi ke Bali dari kota asalnya Cirebon menggunakan perahu layarnya. Walaupun ketika itu usianya masih benar-benar muda, namun ia benar-benar handal mengendalikan perahu layarnya yang lumayan besar itu seorang diri.
Isaac benar-benar terperanjat ketika seorang gadis cantik bermata sendu memperhatikannya merapatkan perahu layarnya di dermaga. Ia bingung, kenapa gadis itu memperhatikan wajahnya bukannya perahu layarnya yang cantik. Setelah perahu layarnya itu merapat; ia pun melompat ke dermaga dan langsung menghampiri gadis itu yang usianya ternyata lebih tua dua sampai tiga tahun darinya.
"Apa khabar?" Isaac memulai pembicaraan.
Bukannya menjawab; gadis itu malah terlihat kikuk dan memerahlah pipinya.
"Aku Isaac."
"...(aku tdk akan menyebutkan nama gadis ini)..."
"Oh, kau tahu apa yang kebetulan?" sambil menunjuk ke arah tubuh perahu layarnya; Isaac pun kembali berkata: "Namamu sama dengan nama perahuku."
Pipi gadis itu benar-benar merona dan benar-benar memerah dan akhirnya gadis cantik itu pun tersenyum.
Selama seminggu setelah perkenalan itu; mereka selalu menghabiskan hari demi hari bersama. Mereka selalu berlayar bersama menggunakan perahu layar Isaac yang secara kebetulan bernama sama dengan gadis itu. Hari demi hari gadis itu semakin lincah ketika berlayar bersama Isaac. Selama berlayar; Gadis itu langsung mengerti kapan harus bergerak ke arah kiri atau kanan perahu dan kapan harus meunduk menghindari kibasan tiang layar perahu. Karena memang begitulah caranya ketika kau berlayar menggunakan perahu layar; kau harus berada di sebelah kanan ketika perahu berbelok ke arah kiri, karena badan kiri perahu akan berada sejajar dengan permukaan laut dan sebelah kanannya akan berada di atas--kapal itu akan miring.
Sebelum berlayar kembali ke Cirebon. Pada hari ketujuh di dermaga yang sama; Isaac mencium bibir gadis itu. Bukannya mendapat tamparan sebagai balasan, Isaac malah mendapat ciuman sebagai balasannya dan akhirnya mereka pun berciuman selama beberapa menit.
"Ini nomor teleponku di Jakarta," kata gadis itu.
"Jangan, tak perlu dipaksakan... Biarkan saja semuanya kembali seperti semula. Kita pulang ke kota kita masing-masing dan mengerjakan apa yang biasa kita kerjakan. Lagipula, bukankah kau akan tinggal di luar--bukankah kau sekolah di Belanda?! Jika memang kita harus kembali bertemu, maka kita pasti bertemu bagaimana pun keadaannya kelak."
"Datanglah! Jika suatu saat kau lihat atau kau tahu aku berada di mana."
Kesenduan memang menjadi milik pancaran mata gadis itu, tapi dengan perpisahan ini sorot kesenduan itu semakin menjadi. Sorot kesenduan dari seorang gadis-cantik-bermata-sendu.
Mereka pun berpisah.

Isaac kembali tersadar dari kenangannya. Kejadian-kejadian antara dirinya dan gadis itu pun sementara ini lenyap. Perih terasa kenangan indah itu ketika Isaac tersadar bahwa dirinya belum menjadi apa-apa (lulus aja blom alias dedengkot manajemen UNPAD), sedangkan gadis itu kini telah menjadi seseorang.

BANDUNG, 2006

Pemuda kurus itu berlari ke dalam lobby hotel itu. Ia yakin telah melihatnya; Ia yakin telah melihat gadis itu... gadis-cantik-bermata-sendu-itu. Ia tak salah--gadis itu tengah melangkah memasuki lift.
".................," Pemuda kurus itu menyapa, atau lebih tepatnya berteriak.
sembari menatapnya, gadis itu pun melangkah keluar dari lift dan menghampiri pemuda kurus itu. Tatapan gadis itu benar-benar syahdu, pipinya kembali memerah. Ia pun berkata:
"Isaac."

0 Comments:

Post a Comment

<< Home