Buta
Kenapa ku Peluk panasmu?
Kenapa ku kecup sunyimu?
Adakah kiranya ku kan terbebas?
Terongko ini terlalu rekat untuk ku tebas
Sendu menderu gejolak kalbu
Terengah aku, lalu membisu
Tak ada guna alirkan syahdu
Semua kan hanya tambah sembilu
Melayang kering itu
Lukai tubuh nan layu
Terhempas daun itu
Seiring dendang solankhi mendayu-dayu
Semakin dalam aku terjebak
Lingkaran penuh biru pun menyeruak
Ku coba tuk terus mendaki
Ku tahu pasti apa yang ku cari
Lantang ku terdiam
Membisu ku teriak
Merangkak ku berlari
Menyelam ku di udara
Semua semakin terang
ketika ku terbang dalam birunya samudra
Dalam, semakin dalam ku tahan,
namun himpitan arus itu menekan
Terhimpit, terhimpit, dan terhimpit
Dalam, dalam, semakin dalam
Terlena ku atas siksanya
Walau ku tahu segalanya menyempit
Ku buka lebar-lebar mataku
Namun pandang ini mengabut
Terpejam akhirnya ku memilih
Ku bersyukur; semua menjadi jernih
Kenapa ku kecup sunyimu?
Adakah kiranya ku kan terbebas?
Terongko ini terlalu rekat untuk ku tebas
Sendu menderu gejolak kalbu
Terengah aku, lalu membisu
Tak ada guna alirkan syahdu
Semua kan hanya tambah sembilu
Melayang kering itu
Lukai tubuh nan layu
Terhempas daun itu
Seiring dendang solankhi mendayu-dayu
Semakin dalam aku terjebak
Lingkaran penuh biru pun menyeruak
Ku coba tuk terus mendaki
Ku tahu pasti apa yang ku cari
Lantang ku terdiam
Membisu ku teriak
Merangkak ku berlari
Menyelam ku di udara
Semua semakin terang
ketika ku terbang dalam birunya samudra
Dalam, semakin dalam ku tahan,
namun himpitan arus itu menekan
Terhimpit, terhimpit, dan terhimpit
Dalam, dalam, semakin dalam
Terlena ku atas siksanya
Walau ku tahu segalanya menyempit
Ku buka lebar-lebar mataku
Namun pandang ini mengabut
Terpejam akhirnya ku memilih
Ku bersyukur; semua menjadi jernih

0 Comments:
Post a Comment
<< Home