Notre Histoire
Ingatkah dirimu, ku pernah ungkapkan sesuatu padamu pada pertemuan kita yang kedua itu? Ku bilang;
"Hanya ada satu gadis yang ku rasa sangat ku sayangi," dan kau tersenyum ketika itu--senyum bahagia; sampai akhirnya kau menciumku.
Akhirnya ku memberanikan diri mengucapkan sesuatu yang ku tahu sangat melukaimu; ku bilang;
"Itu bukan dirimu--gadis itu bukan dirimu; gadis itu ku temui tiga tahun yang lalu dan kini dia telah pergi tanpa pernah mengetahui yang sesungguhnya," dan saat itu kau langsung terdiam, bahkan memalingkan wajah cantikmu itu dariku.
Kau menundukan wajahmu dan pada saat itu tampak sangat jelas tetes-tetes air mata jatuh dari mata indahmu itu.
Akhirnya ku lanjutkan;
"Tapi ntah kenapa, hanya dirimu yang ku rasakan selama ini--bahkan ketika aku bersamanya--bersama gadis itu; aku merasakanmu. Sudah delapan tahun dari pertemuan kita itu, dari seminggu terindah yang ku rasakan bersamamu, seminggu terindah di Bali bersamamu--pertemuan pertama kita, perkenalan kita; aku tetap merasakanmu, walaupun kita terpisah selama delapan tahun ini," akhirnya ku benar-benar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya sangat ku hindari. Sebenarnya aku sangat takut mengungkapkan semua itu padamu--tapi aku tak tahan (seseorang harus mengakuinya dan orang itu adalah diriku).
Namun betapa terkejutnya diriku ketika ku dengar kau berkata;
"Apakah yang kau maksud adalah bahwa kau selalu mengenangku dan bayangan dari kenangan itu selalu bersamamu tanpa bisa kau hentikan?"
"Ya, bahkan aku merasa; kenangan itu selalu memelukku--aku sendiri selalu merasa, kenangan kita itu seolah-olah tak dapat merelakan diriku menyayangi gadis lain--karena mungkin tanpa ku sadari aku telah menyayangimu dari pertemuan pertama kita itu--justru mungkin rasa ini terlalu besar bagi seseorang seperti diriku, hingga ku tak pernah mengerti apa yang ku rasakan padamu," ku jawab.
Tanpa ada sepatah kata pun dari bibirmu--kau memelukku, menciumku dengan lembutnya. Dan dalam sorot sendumu itu ku lihat seberkas kebahagiaan yang ku tahu tengah menyelimutimu ketika itu.
"Aku menyayangimu dan aku rela hubungan kita hanya sebatas teman dekat hingga kau sendiri sadar bahwa kau menyayangiku--setelah itu aku yakin aku akan bersamamu," katanya. Dan kau pun menciumku kembali.
Kini berbulan-bulan setelah itu, aku terkadang merasa harus pergi saja walaupun ku tak mau. Lihatlah dirimu sekarang; mungkin se-Indonesia ini mengenalmu atau mungkin hanya pernah melihatmu--tapi yang jelas mereka mengetahui siapa dirimu. Apa jadinya jika seseorang sepertimu menangis hanya karena seseorang sepertiku.... Aku tak ingin melukaimu tapi jika kau menginginkan diriku ini untuk pergi dari hidupmu, maka akan ku lakukan--asal kau memintanya. Meminta ku menjauh dari kenangan yang mungkin timbulkan lara demi kebahagiaanmu.
"Hanya ada satu gadis yang ku rasa sangat ku sayangi," dan kau tersenyum ketika itu--senyum bahagia; sampai akhirnya kau menciumku.
Akhirnya ku memberanikan diri mengucapkan sesuatu yang ku tahu sangat melukaimu; ku bilang;
"Itu bukan dirimu--gadis itu bukan dirimu; gadis itu ku temui tiga tahun yang lalu dan kini dia telah pergi tanpa pernah mengetahui yang sesungguhnya," dan saat itu kau langsung terdiam, bahkan memalingkan wajah cantikmu itu dariku.
Kau menundukan wajahmu dan pada saat itu tampak sangat jelas tetes-tetes air mata jatuh dari mata indahmu itu.
Akhirnya ku lanjutkan;
"Tapi ntah kenapa, hanya dirimu yang ku rasakan selama ini--bahkan ketika aku bersamanya--bersama gadis itu; aku merasakanmu. Sudah delapan tahun dari pertemuan kita itu, dari seminggu terindah yang ku rasakan bersamamu, seminggu terindah di Bali bersamamu--pertemuan pertama kita, perkenalan kita; aku tetap merasakanmu, walaupun kita terpisah selama delapan tahun ini," akhirnya ku benar-benar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya sangat ku hindari. Sebenarnya aku sangat takut mengungkapkan semua itu padamu--tapi aku tak tahan (seseorang harus mengakuinya dan orang itu adalah diriku).
Namun betapa terkejutnya diriku ketika ku dengar kau berkata;
"Apakah yang kau maksud adalah bahwa kau selalu mengenangku dan bayangan dari kenangan itu selalu bersamamu tanpa bisa kau hentikan?"
"Ya, bahkan aku merasa; kenangan itu selalu memelukku--aku sendiri selalu merasa, kenangan kita itu seolah-olah tak dapat merelakan diriku menyayangi gadis lain--karena mungkin tanpa ku sadari aku telah menyayangimu dari pertemuan pertama kita itu--justru mungkin rasa ini terlalu besar bagi seseorang seperti diriku, hingga ku tak pernah mengerti apa yang ku rasakan padamu," ku jawab.
Tanpa ada sepatah kata pun dari bibirmu--kau memelukku, menciumku dengan lembutnya. Dan dalam sorot sendumu itu ku lihat seberkas kebahagiaan yang ku tahu tengah menyelimutimu ketika itu.
"Aku menyayangimu dan aku rela hubungan kita hanya sebatas teman dekat hingga kau sendiri sadar bahwa kau menyayangiku--setelah itu aku yakin aku akan bersamamu," katanya. Dan kau pun menciumku kembali.
Kini berbulan-bulan setelah itu, aku terkadang merasa harus pergi saja walaupun ku tak mau. Lihatlah dirimu sekarang; mungkin se-Indonesia ini mengenalmu atau mungkin hanya pernah melihatmu--tapi yang jelas mereka mengetahui siapa dirimu. Apa jadinya jika seseorang sepertimu menangis hanya karena seseorang sepertiku.... Aku tak ingin melukaimu tapi jika kau menginginkan diriku ini untuk pergi dari hidupmu, maka akan ku lakukan--asal kau memintanya. Meminta ku menjauh dari kenangan yang mungkin timbulkan lara demi kebahagiaanmu.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home