Friday, July 13, 2007

Cacciatore I

"Seret dia!" Seru seorang carabinier kepada partnernya.
"Kenapa tidak kita bunuh saja! Kita akan jadi pahlawan jika membunuhnya."
"Percuma! Biarkan saja! Luka-lukanya cukup untuk membunuhnya. Kita akan menghadapi pemeriksaan yang sangat ketat jika kita membunuhnya; dia samasekali tidak membawa senjata."
"Bagaimana jika luka-lukanya itu tidak membunuhnya?"
"Kau tenang sajalah! Dia akan dipenjarakan, mungkin dua kali seumur hidup karena kejahatannya, kau mengerti! Lagipula dia tidak akan bertahan lama dengan luka-luka seperti itu."
"Atau mungkin kita yang akan pergi ke neraka jika dia berhasil melarikan diri dari penjara. Dia akan memburu kita. Oh Tuhan, julukannya saja cacciatore, dia akan memburu kita untuk vendetta. Dio mio! Antonio Cacciatore akan menghukum kita dan melemparkan kita ke neraka karena kesalahan kita dengan tidak membunuhnya."
"Lihatlah, tiga luka tembak di sekitar perut dan dada, lalu dua di punggung! Siapa yang bisa bertahan hidup dengan luka seperti itu Gianni?"
"Kurasa dia, Attilio," serunya dengan kekhawatiran yang sangat luar biasa sembari menunjuk ke arah tubuh yang mulai bergerak-gerak.
Dia masih hidup. Antonio Cacciatore masih hidup!

Suara sirene meraung-raung di kejauhan memecah heningnya malam. Berita tertembaknya Antonio Cacciatore telah membangunkan seluruh kota. Dalam sekejap tempat itu telah seramai pasar malam, penuh sesak oleh para polisi, petugas medis dan para penduduk kota yang ingin tahu seperti apa jadinya seorang Antonio Cacciatore, seorang pemuda kurus yang tiba-tiba bersumpah untuk melakukan vendetta, bocah ingusan dari Taranto yang tiba-tiba menjadi dewasa, bocah tampan yang sedang menghadapi maut di Palermo.
"Siapa dua orang carabinieri yang sudah dengan gagah berani menghajar bocah ini? Panggil mereka!" Serafino Bonifacio sang capitano di polizia berkata.
Dengan sigap dan bangga, kedua carabinieri itu menghadap sang kapitan yang sedang memperhatikan lekat-lekat wajah tampan sang pemburu dari Taranto. Tubuh itu sangat lemah terkulai dengan banyak luka tembak. Dia tak mungkin selamat, pikir sang kapten. Pikiran yang salah tentunya. Terlalu banyak dendam yang menghinggapi pemuda itu. Tugasnya belum selesai, masih ada tiga nama lagi. Serafino memalingkan wajahnya ke arah dua orang carabinieri yang sudah tiba di hadapannya. Carabinieri pahlawan.
"Oh, rupanya kalian yang menghajar bocah tolol Taranto ini?"
"Begitulah signore," Attilio menjawab dengan bangga.
"Ada apa denganmu Gianni? mukamu tampak pucat!" Serafino bertanya.
"Tidak apa-apa signore!" Gianni berbohong. Wajahnya menjadi pucat karena dia melihat tatapan dingin penuh dendam dari seseorang yang sedang menghadapi maut. oh... mudah-mudahan dia cepat mati dan pergi ke neraka, pikirnya.
"Bagaimana kalian bisa menghajar bocah ini?! Kalian sangat luar biasa. Kota ini berhutang pada kalian, bahkan kupikir seluruh pulau ini berterima kasih pada kalian. Kurang ajar! Bocah ini samasekali bukan penduduk pulau ini, tapi dia berani mengoyak-ngoyak pulau kita tercinta ini, sangat kurang ajar! Taranto bajingan! Apulia gila!"
"Begini signore, kami hendak pulang tapi kami memutuskan untuk min..," Dengan bangga, Attilio hendak bercerita sebelum dipotong Serafino.
"Ah, sudahlah! Kalian buat saja laporan dan taruh di mejaku besok pagi! Aku tidak punya cukup waktu malam ini. Bajingan ini menggangu tidurku!"
"Sì, signore! Ogni tuo desiderio è un ordine. Keinginanmu adalah perintah bagiku." Attilio sedikit menjilat.
"Bagus! Aku akan pastikan bajingan ini tak akan pernah keluar dari penjara, itu kalau dia tak keburu mati."
"Kalaupun dia hidup dan bisa melarikan diri dari penjara, kami akan memastikan dia tidak pernah bisa pulang ke Taranto, dia bahkan tidak akan pernah sampai Ionian, apalagi Teluk Taranto, kami sendiri yang akan menenggelamkannya di Tyrrhenian," Attilio kembali menjilat.
"Hahahahaaaa..," Serafino pun tertawa senang. "Baguslah kalau begitu. Nah, Attilio Giraldo dan kau Gianni Baldovino, akan kupastikan kalian mendapat penghargaan yang berhak kalian dapatkan! Serafino merangkul kedua carabinieri tersebut. "Kau tersenyumlah Gianni! Kau pahlawan sekarang," Serafino melanjutkan sambil menoleh ke arah Gianni.

Tubuh lemah itu dimasukan ke dalam mobil ambulan yang akan membawanya ke rumah sakit. Pintu mobil ambulanpun tertutup dan tak lama berselang sirene kembali meraung-raung seolah memberi perintah kepada orang-orang untuk menyingkir dari jalanan.
Antonio Cacciatore menahan sakit yang teramat sangat, rasa sakit yang sedang menggerogoti tubuhnya. Baginya, rasa sakit ini tak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya yang membuatnya sanggup untuk bersumpah vendetta.
'Bocah ingusan! Bocah tolol!'Orang tua itu menyebutku begitu, kau salah pak tua! Aku bukan bocah ingusan lagi, pikirnya. Vendetta ini dimulai tujuh tahun lalu di Taranto, ketika itu usianya 18 tahun. Korban pertamanya ia temukan di Campania, tepatnya di Salerno. Lupara-nya sangat berjasa ketika itu. Dua peluru dari lupara itu menghantam dada dan kepala Corrado Calvino yang secara tiba-tiba mengeluarkan sepucuk derringers. Terlalu banyak orang yang berada di antara vendetta ini. Kini Antonio harus menyusun daftarnya kembali. Tadinya tinggal tiga nama lagi, kini bertambah, pikirnya. Attilio Giraldo, Gianni Baldovino, bukankah kalian kroniku? Tak seharusnya kalian mengkhianatiku demi imbalan dari pemerintah, demi uang! Seharusnya kalian membunuhku! Kalian terlalu cepat mengambil kesimpulan. Selimut vendetta ini akan menyelamatkanku dari kematian. Daftarku bertambah.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home